MISTERI DI BALIK SEGORES LUKA - ASHADU.ID
  • Sugeng Rawuh
Minggu, 31 Agustus 2025

MISTERI DI BALIK SEGORES LUKA

MISTERI DI BALIK SEGORES LUKA
Bagikan

Hai, teman-teman …. Bagaimana dengan kondisi hati? Aman, ‘kan? Harus, dong, pastinya …. Kalau hatinya lagi tidak aman cepat diamankan sebelum diambil orang. He he …. Kenapa saya bertanya mengenai keadaan hati karena saya mau memberikan sedikit cerita mengenai goresan yang berhubungan dengan hati. Kisah ini merupakan pengalaman saya sendiri.

Enam tahun yang lalu saat kelas satu MTs (Madrasah Tsanawiah), saya dipaksa dan terpaksa masuk pesantren. Entah karena saya nakal atau keinginan keluarga, saya tidak tahu.  Sebenarnya, saya tidak memiliki keinginan sekolah di sana, meskipun rajin ke TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan sudah lancar membaca Al-Qur’an. Akhirnya, saya pasrah. Tidak memiliki semangat sama sekali.

Singkat cerita … saya sudah masuk ke pesantren dan mulai beradaptasi dengan lingkungan di sana. Saya terpaksa harus mengubah diri secara drastis. Rasa sedih begitu mendalam karena itulah pertama kalinya saya berpisah dengan keluarga. Saya mulai menjalani keseharian di pesantren dan dari sinilah cerita saya dimulai.

Dunia pesantren dapat dikatakan sangat dekat dengan yang namanya ujian atau cobaannya para santri. Ada juga yang menyebut bahwa dunia pesantren adalah sebuah penjara suci dan tidak semua orang betah tinggal di sana. Jika kalian yang sekarang sedang menempuh pendidikan di pesantren, kalian adalah orang yang hebat.

Berdasarkan apa yang sudah saya rasakan selama enam tahun di pesantren, sangatlah berat. Akan tetapi, berkat itu semua saya mendapat banyak pengalaman hidup. Mulai yang menyenangkan hingga menyakitkan, dan hal tersebut sudah wajar bagi kami para santri yang tolabul ilmu di pesantren.

Sejak tahun awal saya di pesantren, ujian sudah saya rasakan, mulai dari dikucilkan teman, sakit-sakitan dan sebagainya. Pada waktu itu, saya merasa sangat terpuruk. Bayangkan saja, saya sedang sakit dan tidak ada yang bersedia menemani di pesantren entah apa sebabnya saya juga tidak tahu. Kedua mata ini tidak berhenti meneteskan air mata karena saya merasa saat itu sangat berat. Namun, di sisi lain saya juga tidak ingin mengecewakan orang tua, jika saya minta pulang ke rumah. Keadaan terus seperti itu hingga dua tahun kemudian. Saya mulai mencari cara untuk menghadapi dan segera menyelesaikan masalah ini.

Dari sini saya mulai bangkit dan harus dapat berdiri kokoh. Saya mulai dapat menerima realita keadaan dan selalu mendekati orang-orang yang tidak suka dengan saya. Dan, seiring berjalannya waktu keadaan mulai membaik. Teman yang tidak suka dengan saya, perlahan mulai dekat. Saya juga mulai belajar bagaimana menyikapi keadaan, mulai fokus pada pembelajaran kitab pesantren, serta hafalan yang diharuskan untuk khatam. Ternyata, tidak mudah, loh, pembelajaran kitab kuning itu. Harus rela begadang hingga punya mata panda, tetapi insya Allah itu semua barokah dan manfaat.

Tahun pun berganti, alhamdulillah saya naik ke kelas 2 (dua) wustho tepat waktu. Perjuangan yang tidak mudah, diperlukan niat dan keistikamahan. Nadhom Al fiyah seribu bait yang harus saya tempuh. Dan, alhamdulillah semua dapat terlewati bersama ustazah yang begitu perhatian dan istikamah menyimak hafalan saya.

Konon katanya hafalan Al fiyah itu pasti ada cobaannya, apalagi di bab Jamak Taksir entah itu fakta atau tidak saya sendiri juga belum tahu. Namun, yang saya alami justru pada saat sudah selesai hafalan. Waktu itu ada sebuah kejadian kehilangan ponsel pengurus di pesantren putri. Berhubung saya adalah keamanan pondok, jadi saya dan teman saya ditugaskan pengurus untuk mencari telepon genggam tersebut. Saya sendiri merasa aneh saat itu, apalagi yang hilang adalah ponsel Nokia jadul (bukan Android layar sentuh) milik pengurus yang biasa digunakan untuk berkomunikasi para santriwati ke wali santri.

Saya heran buat apa orang tersebut mencuri ponsel itu, padahal tidak dapat digunakan nonton drakor (drama Korea). Ha ha …. Akhirnya, dengan rasa penasaran kami mulai menyelidiki kasus tersebut dengan cara yang sudah biasa saya lakukan. Biasanya kami dapat dengan mudah menemukan pelaku dari kasus pencurian entah itu uang atau pun barang. Hanya saja, kali ini kami sedikit kesulitan untuk mengetahui dan menyelidiki siapa pelakunya. Hari terus berjalan hingga saya curiga dengan salah satu adik kelas yang gerak-geriknya aneh, apalagi jika bertemu saya. Akhirnya, saya coba panggil dan mengajaknya ke kamar mandi sekolah untuk menanyainya.

“Dek, apa kamu tahu soal kehilangan HP pengurus?” tanya salah satu di antara kami berdua.

“Tidak, Kak. Saya tidak tahu,” jawabnya dengan gelagat mencurigakan. Dari sorot matanya terlihat ketakutan.

“Yang benar, Dek jawabnya. Jujur saja, Kakak enggak marah, kok. Mungkin nanti hanya disuruh ngembaliin saja.” Salah satu dari kami berdua bersuara padanya.

“Jujur, Kak bukan saya yang mengambil.” Dia berkata sambil menundukkan kepala, takut.

“Dek, kalau enggak mengambil jangan ketakutan begitu.” Teman saya berkata sambil tersenyum.

“Iya, kalau kamu kayak gitu kami justru lebih curiga sama kamu.” Saya menambahi, tetapi dia justru menangis tanpa mampu menjawab.

“Iya, Dek jujur saja. Bagaimana, Adik mengambil apa enggak?”

Bukannya menjawab, adik kelas saya justru terus menangis. “Bagaimana, Dek?” tanya salah satu dari kami dengan nada tinggi.

“Enggak, Kak,” jawabnya dengan suara lirih sambil terus menangis.

“Ya, sudah, kalau kamu enggak mengambil jangan nangis. Terus kenapa coba kalau enggak mengambil, kok, menangis? Kakak lebih curiga, loh, Dek.”

“Enggak, Kak.” Dia menjawab dengan kalimat yang sama dan suara bergetar.

“Oke, kalau kamu enggak mau jujur nggak apa-apa. Tapi seandainya Kakak menemukan bukti ada padamu, kamu harus terima konsekuensi.” Tegas salah satu dari kami. Ia hanya menunduk. “Sudah, sana kembali ke kelas!”

Setelah proses penanyaan tadi, kami semakin curiga kalau dialah yang mengambil. Singkat cerita, ternyata dia lapor pada orang tuanya kalau ia dituduh mencuri dan dikunci di kamar mandi. Orang tuanya ke pondok untuk menemui kami. Kami berdua kena marah habishabisan. Saya jelaskan kalau memang benar kami menanyai anaknya perihal kejadian kehilangan tersebut. Namun, bukan berarti kami menuduh dan demi Allah kami tidak mengunci anaknya di kamar mandi. Hanya saja, bapaknya adik kelas saya masih bersikeras kalau kami mengunci anaknya di kamar mandi. Dan, saya diancam kalau anaknya mau diboyong dari pondok dan akan membuat saya celaka dengan ilmunya. Entah apa itu, saya tidak paham dengan perkataan beliau.

Dalam waktu bersamaan, saya juga dimusuhi pengurus satu pondok karena masalah ini. Mereka berkata bahwa kami mencemarkan nama baik pondok. Saya merasa tidak terima karena mereka sebagai pembesar pengurus pondok dan yang lebih jauh umurnya dari saya, mereka justru lepas tangan dengan masalah ini. Padahal, mereka selalu mendesak saya untuk segera menemukan ponsel itu. Bayangkan, kamu didesak orang dan ketika terdapat salah langkah, mereka justru memusuhi dan tidak turut campur.

Rasanya kesal dan sedih karena pihak yang sudah dianggap keluarga sendiri tidak membela kita sebagai adiknya. Akhirnya, anak itu dijemput pulang ayahnya dan saya merasa terpuruk karena ancaman itu. Saya takut sekali. Ancaman yang katanya mau membuat saya hancur perlahan entah itu santet atau apa saya juga tidak paham. Hafalan tidak terurus dan saya pun sedih dan takut berlarut-larut.

Saya tidak ada semangat sama sekali. Teman-teman saya pun merasakan apa yang saya rasakan. Saya selalu menangis waktu makan, sendirian, bahkan saat berkumpul dan bercanda dengan teman pun saya juga meneteskan air mata. Saya sangat takut. Waktu bangun tidur pun badan saya merasa sakit semua. Setiap akan berdiri dari tempat tidur harus ada yang bantuin.

Saat itu saya merasa sudah tidak memiliki harapan hidup. Hampir satu minggu saya seperti itu dan sering bermimpi hal-hal aneh yang bersifat ghaib. Secara tiba-tiba, ada kakak kelas yang memiliki indera keenam bilang kalau sepertinya ada yang mengganggu saya.

Hal tersebut membuat saya terus kepikiran dan badan rasanya sudah tidak karuan. Tiba-tiba saya disodori ponsel. Ternyata ayah saya telepon. Beliau berkata, “Sudah, Nak jangan terlalu dipikirkan. Ayah tahu apa yang kamu rasakan. Ayah tahu apa yang terjadi sama kamu. Ayah tahu siapa yang melakukannya. Ayah juga tahu bagaimana yang kejadian sebenarnya.”

Saya menangis, tidak dapat berkata apa-apa. Tanpa saya memberitahu beliau, Ayah sudah tahu apa yang sedang terjadi. “Nak, tolong jangan terlalu dipikir. Kalau kamu selalu mikir terlalu dalam, itu malah bisa terjadi ke kamu. Ayah tahu benar, Nak. Tolong, ambil kertas dan bolpoin! Kamu tulis apa yang ayah ucapkan. Tunggu beberapa hari, HP yang hilang itu akan ketemu. Ayah tahu siapa yang mengambil, tapi ayah tidak bisa bilang biar tidak terjadi apa-apa sama kamu. Sudah, ya, jangan sedih. Semangat, anaknya Ayah kuat, kok. Tanpa kamu bilang ayah tahu, Nak. Jangan lupa selalu berdoa, ya. Dan, doa yang kamu tulis tadi dibaca setelah salat dan saat badan kamu terasa sakit. Masalah akan segera selesai. Semangat jangan terlalu dipikir dan lanjutkan hafalannya, ya,” lanjut Ayah saya panjang lebar.

Air mata saya tak dapat berhenti mendengar semua perkataan ayah. Akhirnya, saya mulai mengamalkan doa dari beliau, setelah salat dan ketika badan terasa sakit. Dua minggu kemudian ada berita kalau telepon genggam yang hilang sudah ditemukan di lemari pengurus yang ada di ndalemnya Bu nyai. Anehnya, lemari tersebut setiap hari diperiksa dan sering dibuka tutup, tetapi ponsel tersebut tidak terlihat.

Akhirnya, begitu ponsel ketemu alhamdulillah badan saya mulai berkurang rasa sakitnya. Kakak pengurus meminta maaf ke saya dan saya hanya bisa menganggukkan kepala dengan air mata masih terus menetes.

Setelah itu, keadaan membaik dan saya diberitahu oleh seseorang, dia bilang, “Kamu berhasil melewati guncangan masalah besar yang ada dipondokmu yang berasal dari orang luar.”

Saya bingung dengan perkataan orang tadi dan tidak mau memikirkannya lagi. Ini semua berkat tawakal ikhtiar saya, ayah, dan teman-teman yang selalu mendukung saya. Masih menjadi misteri siapa pelaku dibalik itu semua.

—Bersambung—

Bagi teman-teman yang mondok, harus tetap semangat, ya. Walau banyak likaliku dalam proses perjalanan tolabul ilmi harus bisa mengkhatamkan target khotamul pesantren. Alhamdulillah walau banyak rintangan, saya dapat mencapai kata khatam di pesantren. Pulang dengan membawa ilmu dan al fiyah 1000 bait. Serta pengalaman yang dapat saya praktekkan di masyarakat. Tetap semangat, ya ….

KESUKSESAN MENUNGGUMU

TERIMA KASIH

Penulis

SebelumnyaMENGUAK CARA MUDAH BELAJAR BAHASA INGGRIS SECARA OTODIDAKSelanjutnyaPESAN TERINDAH AYAH
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ASHADU.ID
Jl. Raya Simo-Glodok-Tular, Tular, Banjarejo, Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur 63261